TENTANG FILM-FILM YANG DIPUTAR :
Hampir seluruh film ini adalah film dokumenter yang tahun produksinya bervariasi dari tahun 1964 hingga tahun 2003. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Inggris atau memiliki subtitle dalam bahasa Inggris. Satu-satunya film fiksi - dan memiliki subtitle dalam bahasa Indonesia - adalah "the China Syndrome" yang sengaja dipilih karena dapat menggambarkan kesalahan macam apa yang dapat terjadi pada suatu PLTN.
Seperti halnya yang telah terjadi di AS pada kecelakaan Three Mile Island 28tahun yang lalu, hal yang sama sangat mungkin terjadi di negeri kita di mana KKN adalah hal yang sangat sering dijumpai. Selain itu, film ini sekaligus dapat memberi gambaran sekilas mengenai PLTN itu sendiri.
Selain masalah keselamatan PLTN, film-film yang dipilih tersebut temanya bervariasi agar dapat menggambarkan berbagai hal yang berkaitan dengan
program "nuklir untuk damai" tersebut. Sebagai film pembuka adalah film "the Sacrifice" yang bercerita mengenai penderitaan para likuidator (relawan nuklir) pada kecelakaan Chornobyl.
RESENSI FILM :
1. THE SACRIFICE (24 menit / 2003)
Dipuji sebagai pahlawan negara serta diberi sertifikat untuk kemudian diabaikan sebagai sampah masyarakat. Itulah nasib para likuidator - relawan nuklir - pada kecelakaan Chornobyl tahun 1986 seperti dikisahkan oleh film ini. Beberapa likuidator menceritakan apa yang harus mereka lakukan karena teknologi (robot) sudah tidak mampu lagi mengatasinya. Banyak pengakuan yang mengejutkan, termasuk yang membuktikan dugaan bahwa dampak kecelakaan ini dikecilkan secara sistematis. Demikian pula, terungkap penderitaan fisik maupun psikis pasca kecelakaan hingga mereka satu per satu mati muda. Film ini wajib itonton oleh para relawan atau mereka yang berniat menjadi relawan nuklir.
2. "A" IS FOR ATOM (15 menit / 1964)
Film animasi ini dibuat oleh produsen reaktor nuklir terkemuka, General Electric (GE) dari AS. Meski dibuat untuk kepentingan promosi PLTN pada tahun 1960an, film pendek ini cukup menarik karena dapat memberi gambaran mengenai hal-hal teknis tentang atom, teknik fisi nuklir dan berbagai keuntungan dari radioaktifitas dalam bidang industri, biologi, kedokteran, dan pertanian.
3. THE DARK CIRCLE (73 menit / 1982)
"Hati-hati dengan plutonium, jangan sampai terlepas. Jika tidak, ia akan kembali padamu." Film yang sangat impresif ini menceritakan masalah plutonium, materi radioaktif buatan yang dihasilkan oleh PLTN. Dijelaskan bagaimana efek negatif pada para pekerja maupun masyarakat di sekitar fasilitas pembuat senjata nuklir Rocky Flats di AS. Kemudian film bergerak pada bom Nagasaki yang terbuat dari plutonium dan kisah dari orang yang selamat dari bom tersebut. Setelah itu digambarkan berbagai ujicoba bom atom saat puncak Perang Dingin dan para kelinci percobaannya, mulai dari babi hingga manusia -di antaranya para tentara mereka sendiri - yang kemudian hari terkena berbagai kanker akibat radiasi. Film
ini jelas menggambarkan hubungan erat antara senjata nuklir dan PLTN meski awalnya keduanya dianggap angat berbeda: yang satu mematikan manusia dan yang lain membantu kehidupan manusia. Juga digambarkan mengenai protes terhadap PLTN Diablo Canyon yang meski izinnya disetujui NRC (Badan Pengawas Nuklir AS), namun akhirnya gagal beroperasi karena salah disain. Film ini dibuat oleh Judy Beaver 25 tahun yang lalu namun sangat aktual bagi publik Indonesia.
4. DISASTER: CRITICAL ERROR (30 menit / 1998)
Cerita tentang sebuah bencana nuklir pada tahun 1957di kota misterius di
masa Uni Soviet: Chelyabinsk . Kota tersebut dibangun untuk tempat limbah
radioaktif tingkat tinggi dan dahsyatnya kecelakaan tersebut dibanding-dibandingkan dengan Chornobyl. Film ini menjelaskan mengenai ledakan di lokasi tersebut yang tetap menjadi rahasia hingga terungkap di tahun 1980an. Beberapa pakar, termasuk pembangkang Uni Soviet yang lari ke Inggris, mengisahkan tentang bagaimana, mengapa, serta apa dampak dari kecelakaan itu. Yang menarik, kecelakaan nuklir di Chelyabinsk tidak hanya ditutup-tutupi oleh Uni Soviet yang mengalaminya, namun juga oleh musuhnya di masa perang dingin yang saat itu juga berkepentingan untuk melindungi keberlanjutan program PLTN.
5. THE CHINA SYNDROME (118 menit / 1979)
Film fiksi ini dianggap seperti sebuah ramalan terhadap kecelakaan PLTN terbesar di AS, Three Mile Island, yang terjadi beberapa bulan setelah film ini dibuat. Film ini menceritakan tentang masalah keselamatan nuklir di sebuah PLTN. Pekerja ahli yang loyal pada PLTN tersebut menemukan adanya kesalahan akibat pemalsuan yang dilakukan oleh kontraktor yang dapat membahayakan reaktor tersebut. Ia ingin mencegah terjadinya kecelakaan yang lebih besar lagi namun ditentang oleh perusahaan operator PLTN tersebut. Semua itu diliput secara langsung oleh seorang jurnalis dan kamerawan TV yang sedang membuat berita tentang PLTN dan protes antinuklir. Film yang dibintangi oleh Jane Fonda dan Michael Douglas - keduanya juga aktifis antinuklir - ini dapat mengingatkan kita akan besarnya potensi kejadian serupa di Indonesia.
6. NOWHERE TO RUN (21 menit / 2003)
Film ini menjelaskan berbagai aspek keselamatan dari PLTN di AS, terutama Indian Point, pasca tragedi 9/11. PLTN yang mulai beroperasi pada tahun 1962 itu terletak di wilayah yang sangat padat di negara bagian New York sehingga sangat berbahaya bagi masyarakat. Dimulai dari masalah keamanan dari serangan teroris yang sebelumnya diketahui mengincar reaktor nuklir sebagai sasaran, lalu film berlanjut dengan kegagalan peran Badan Pengawas AS (NRC-Nuclear Regulatory Commission) dan sejarah pengoperasiannya. Film ini menjelaskan potensi bahaya dari penyimpanan bahan bakar nuklir serta rentannya keamanan reaktor tersebut. Selanjutnya dibeberkan potensi kegagalan rencana evakuasi jika terjadi keadaan darurat serta rendahnya kemampuan penanganan kasus radiasi secara massal. Film ini diakhiri dengan diajukannya solusi untuk mengatasi potensi dampak ekonomi penutupan reaktor tersebut dan energi alternatif untuk menggantikan energi nuklir tersebut. Film ini diproduksi untuk Indian Point Safe Energy Coalition (IPSEC).
7. FALL-OUT FROM CHERNOBYL (50 menit / 1996)
Film ini menceritakan perjuangan seorang dokter, wakil dari WHO, agar dampak kesehatan akibat Chornobyl pada anak-anak di Belarusia diakui. Belarusia yang berbatasan dengan Chornobyl di Ukraina adalah daerah yang terkena dampak radiasi yang parah. Namun, pemerintah pusat tidak pernah memberitahu adanya kecelakaan tersebut hingga selesai peringatan Hari Buruh (May Day). Karenanya, tidak ada distribusi tablet yodium untuk mencegah kanker tiroid. Kemudian ditemukan lonjakan jumlah kanker tiroid pada anak-anak, dari 20 kasus selama 20 tahun menjadi 400 kasus selama 9 tahun pasca Chornobyl. Dokter lokal bahkan menganggap bahwa operasi tiroid pada anak-anak Belarusia sudah seperti menangani penyakit flu biasa. Selain itu, banyak ditemukan jenis kanker yang lain serta katarak pada anak-anak. Meski demikian, IAEA meragukan adanya kaitan antara fakta-fakta tersebut dengan Chornobyl. Film ini juga menampilkan gambar-gambar para korban tersebut, termasuk yang lahir cacat.
8. PANDORA'S BOX: A IS FOR ATOM (60 menit / 1992)
Film yang banyak menampilkan arsip bersejarah dari tahun 1940an hingga 1960an ini bercerita dari mulainya era nuklir, sejak dari bom atom hingga "wajah damainya" berupa PLTN pertama di Shippingport (AS), Uni Soviet, dan Calder Hall (Inggris) di tahun 1950an. Film ini menggambarkan masa kejayaan para ilmuwan - terutama fisikawan - serta puncak dari kredo bahwa "teknologi adalah panglima". Saat itu PLTN tak hanya sekedar alat pembangkit listrik yang sangat menjanjikan, namun telah menjadi simbol dan harapan menuju dunia yang lebih baik. Kedua kubu di masa perang dingin, komunis dan kapitalis, sama-sama menyatakan pentingnya PLTN bagi kepentingan ideologi mereka. Karenanya, meski di tahun 1950an itu juga telah terjadi kecelakaan di Soviet dan PLTN Windscale (Inggris), hal itu sebisa mungkin ditutup-tutupi. Namun akhirnya datang juga masa-masa sulit: demonstrasi besar-besaran anti PLTN serta kecelakaan PLTN Three Mile Island (TMI), Pennsylvania, di tahun 1979 yang praktis menghancurkan pasar PLTN di AS. Film ini diakhiri dengan bencana Chornobyl di tahun 1986 dan kisah tragis tentang Valery Legasov, pahlawan Chornobyl sekaligus pembela program PLTN Soviet yang kemudian berbalik dengan mengecam teknokrat saat ini yang dianggapnya tak bermoral. Legasov mati bunuh diri dua tahun kemudian. Film produksi BBC ini juga dapat memberi jawaban bahwa pernyataan "PLTN adalah solusi murah dan aman bagi penyediaan energi" tak lain dari pengulangan janji kosong energi nuklir yang telah diucapkan 50 tahun yang lalu.
9. ATOMIC LIES (41 menit / 2002)
Cerita tentang konflik kepentingan antara dua lembaga PBB terkait dengan penanganan korban kecelakaan Chornobyl: IAEA dan WHO. Sebagai lembaga yang tugasnya mempromosikan "nuklir untuk damai", IAEA tidak mau mengakui
berbagai penyakit yang ditemukan akibat Chornobyl. Dengan kekuatannya - karena berada di bawah Dewan Keamanan PBB - IAEA berhasil mencegah lembaga kesehatan internasional tersebut untuk menangani masyarakat korban Chornobyl. Kemudian dengan berbagai cara IAEA juga berhasil menggagalkan keluarnya laporan WHO dan para dokter lokal yang membuktikan parahnya dampak Chornobyl. Juga disinggung kasus Prof. Bandazhevsky yang dipenjara oleh pemerintah Belarusia setelah menemukan sindrom baru akibat radiasi Chornobyl. Film ini adalah sebuah laporan dari Konferensi Internasional Chornobyl 2001 di mana konflik tersebut sangat nyata terlihat.
PANITIA PELAKSANA
Koordinator: Revitriyoso Husodo
Resensi Film: Dian Abraham
Teknis: Wempi Wantik
Publikasi: Widi Astuti
Relawan: Ambar, Reno Fanama, Irma, Heribertus Wibowo
Detail on events
here